Banten Lama
Jejak Multikultural di Banten Lama
KESULTANAN Banten yang mulai dibangun Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati dari Cirebon pada abad ke-16 dan dilikuidasi Daendels tiga abad kemudian kini tinggal reruntuhan. Namun pada puing-puingnya yang kini terserak di daerah Banten Lama, sekitar 10 kilometer sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten, jejak lintasan sejarahnya yang penuh warna masih tampak segar.
Meski sebuah kesultanan Islam, Banten pernah menjadi sebuah tempat di mana berbagai suku dan bangsa hidup berdampingan dengan damai. Rakyat Banten purba merupakan konglomerasi dari sejumlah komunitas etnik yang memiliki keyakinan yang berbeda-beda, seperti Cina, Arab, Melayu, Eropa dan orang Banten sendiri.
Dengan kata lain, masyarakat Banten tempo dulu adalah sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi multikulturalisme, paham yang anehnya justru terasa kian memudar dalam masyarakat Banten masa kini, juga dalam masyarakat Indonesia umumnya.
Sumber: Kompas, Senin, 21 Mei 2001
Markas Kodim Serang “In Memoriam”
Suasana mencekam terasa di salah satu sudut Kompleks Hegar Alam, Ciloang, Serang, Provinsi Banten, Sabtu (10/9) malam. Belasan orang duduk terdiam menyimak tayangan pada layar lebar yang terpampang di hadapan mereka.
Semalam, menjelang peletakan batu pertama Mal Serang, Rumah Dunia memutar sebuah film dokumenter berjudul A Story of Makodim. Film itu mengingatkan kembali perjuangan masyarakat Serang dalam menggagalkan rencana pembongkaran bangunan Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0602 Serang.
Berbagai upaya penggagalan pembongkaran Markas Kodim tergambar jelas dalam film karya Jaya itu. Dari unjuk rasa, aksi melukis, hingga berbagai upaya negosiasi dengan para pejabat Pemerintah Kabupaten Serang.
Macam-macam reaksi mereka saat menonton. Ada yang mengernyitkan dahi, ada yang memegang kepala, ada juga yang duduk bertopang dagu, atau sekadar menggeleng-gelengkan kepala. Sesekali terdengar suara orang mengembuskan napas panjang, lalu berdecak dan bergumam, tidak jelas apa yang dikatakan.
”Ini bentuk perlawanan kami,” kata Gola Gong, pendiri Rumah Dunia, sebuah sanggar baca sekaligus sekolah menulis dan komunitas diskusi di Serang.
Film itu sengaja diputar sebagai wujud keprihatinan atas pembongkaran Gedung Markas Kodim Serang yang tergolong benda cagar budaya. Selain usianya yang sudah lebih dari 100 tahun, gedung itu juga pernah menjadi markas Barisan Keamanan Rakyat yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.
Bahkan, di gedung yang dibangun sekitar tahun 1880 itu pula bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan. Budayawan Iwan Nit Net juga pernah bercerita bahwa Gedung Markas Kodim Serang pernah digunakan sebagai Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Bisa dikatakan, gedung eks Markas Kodim itu merupakan salah satu simbol sejarah perjuangan rakyat Banten, khususnya Serang. Karena itu, sangat disayangkan kalau Pemerintah Kabupaten Serang akhirnya justru mengizinkan bangunan cagar budaya itu dibongkar.
Sejak satu pekan lalu seluruh bangunan di eks kompleks Markas Kodim rata dengan tanah. Patung harimau, tembok bertuliskan ”Markas Komando Distrik Militer 0602 Serang”, dan pilar penyangga bangunan turut dihancurkan pula.
Padahal, menurut Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang Zakaria Kasimin, pilar-pilar Gedung Markas Kodim tidak boleh dihancurkan. Pasalnya, setelah diteliti, hanya pilar-pilar gedung inti yang masih asli, sementara bangunan lain, seperti lantai, tembok, dan atap sudah pernah direnovasi sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya.
Obrolan soal pembongkaran eks Gedung Markas Kodim itu berlanjut hingga pukul 22.15 akhir pekan. Semua yang datang menyesalkan pembongkaran cagar budaya dengan dalih pengembangan investasi itu.
Kini eks Gedung Markas Kodim hanya tinggal kenangan. Gedung bersejarah itu sudah rata dengan tanah. Bahkan, Minggu (11/9), batu pertama pembangunan Mal Serang sudah dipasang. Pembangunan mal seakan tidak bisa dihentikan. Namun, perlu diingat, perlawanan belum usai. (NTA)
Sumber: Kompas, Senin, 26 September 2005
Wisata Arkeologis Banten Lama, Situs-Situs Yang Tak Terurus
Serang - Banten Lama banyak menarik perhatian. Pesonanya dipicu cerita kejayaan dan kemakmuran rakyat Banten pada masa lalu. Apalagi sisa kemajuan tadi masih bisa dijumpai di beberapa tempat. Alih-alih membangkitkan nostalgia, situs-situs itu justru menuai kritik dari sana-sini. Ini terjadi akibat benda-benda cagar budaya itu tampak dibiarkan kumuh dan tak terurus. Padahal, bila digarap serius situs Banten Lama berpotensi sebagai daerah tujuan wisata arkeologis.
Cuaca siang itu (15/04) terlihat begitu cerah. Hawa panas yang ada sudah cukup membuat keringat bercucuran. Tapi itu tak menyurutkan langkah Endjat Djaenuderadjat. Dengan semangat menggebu Kepala Dinas Suaka Purbakala Banten ini asyik menerangkan sejarah kejayaan Banten kepada rombongan wartawan. Datang dari Jakarta, para kuli disket itu sengaja diajak keliling beberapa situs oleh Direktorat Purbakala dan Permuseuman dan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala Serang.
Kali ini, lokasi yang dipilih reruntuhan Istana Surosowan. Istana ini dibangun ketika pasukan gabungan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin dan Pangeran Fatahillah berhasil mengalahkan Kerajaan Pajajaran dan merebut ibukota mereka, Banten Girang.
Di sekitar istana dibangun tembok atau benteng keliling. Areal benteng ini sekitar tiga hektar. Berbeda dengan benteng-benteng Eropa, di atas benteng tidak ada kupel atau bastion. Tetapi justru dibuat tiang-tiang tinggi tempat prajurit mengamati keadaan di luar benteng.
Pada masa Sultan Maulana Yusuf, putera Maulana Hasanuddin, benteng diperkuat dengan batu karang dan batu merah. Di sekeliling benteng digali parit-parit. Di dalam istana dibangun kolam mandi. ”Kolam ini disebut pemandian Loro Denok,” sebut Endjat. Sisa bangunan ini masih bisa terlihat. Hanya saja bukan lagi jadi tempat mandi para sultan tetapi jadi arena bermain gratis bagi anak-anak.
Sultan Ageng Tirtayasa mempercantik istana Surosowan dengan menyewa tenaga ahli dari Portugal dan Belanda, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel. Benteng istana diperkuat dan dipojok-pojoknya dibangun bastion, bangunan setengah lingkaran dengan lubang-lubang tembak prajurit mengintai dan menembak musuh. Endjat pun menunjukkan kepada kami ciri bangunan hasil rehabilitasi oleh Sultan Ageng Tirtayasa dengan pembangunan pada masa Sultan Maulana Yusuf.
Endjat juga menunjukkan karya seni dekor tinggi pada masa itu. Bukti ini masih bisa dijumpai pada sisa ubin merah yang dipasang dengan komposisi belah ketupat. Belum lagi sistem parit dan saluran air bawah tanah ke dalam kompleks istana.
Menurut Paulus Van Solt, pada 1605 dan 1607 benteng istana sempat mengalami kebakaran. Namun nasib istana Surosowan luluh lantak setelah Daendels memimpin pasukan Kompeni untuk menghancurkannya pada 21 November 1808.
Walau hanya tersisa reruntuhan, situs Surosowan sebetulnya masih cukup menarik sebagai salah satu obyek wisata arkeologis. Namun bila melihat kondisi sekarang ini, kami hanya bisa mengelus dada. Di sekeliling kompleks situs dipenubi pedagang kaki lima. Para pedagang ini membuka kios-kios sempit, menjajakan aneka barang bagi pengunjung Masjid Agung Banten Lama. Sampah pun berceceran di mana-mana.
Situs Istana Surosowan juga tak mendapat penjagaan yang layak, walau di sekelilingnya telah dipagari. Setiap orang bisa bebas berkeliaran ke dalam dengan beragam tujuan. Dari sekadar melihat-lihat, berwisata sampai bertapa di salah satu sudut. Lebih miris lagi, pada halaman depan dan bagian dalam istana kawanan ternak ikut ambil bagian. Kerbau, domba dan kambing asyik menikmati rumput yang manis. Melihat semua kenyataan tadi, Endjat hanya tersenyum getir. (SH/bayu dwi mardana)
Sumber: Harian Sinar Harapan 2003
Technorati Tags: Banten Lama, Sultan, Wisata, Arkeologis, Istana, Surosowan